Kulihat langit mulai mendekat.Matahari terbenam di ufuk barat menandakan hari mulai berganti malam. Aku masih ingat benar pelajaran waktu SD pergantian siang dan malam. Matahari tidak menyinari bumi seluruhnya melainkan sebagian, itulah yang menyebabkan adanya siang dan malam. Semua buku tertumpuk rapi di rak buku belajarku. Saat aku merindukan masa kecilku, aku selalu membuka buku-buku itu. Aahhh….. Matahari sudah tak terlihat lagi, bumi sudah mulai gelap. Semua berjalan terus menerus seakan semua sudah tergambar di benakku. Hihihihiii……. Rasanya geli sendiri setiap aku merasa sok tahu. Aku seperti paranormal saja. Setiap senja aku selalu berada di balik tirai kelambu jendela kamarku menyaksikan senja, indahnya langit yang berwarna merah jingga. Seakan semua ikut menyaksikan kebesaran Tuhan. Warna itu memantulkan semua sinarnya di bumi. Kulihat wajahku memerah terpancar dari jendela kamarku terkena indah sinarnya senja hari. Aku sangat menikmatinya hingga aku tak menghiraukan suara berisik ibuku yang selalu memarahi adikku. Yach, dion adikku sangat nakal. Dia sering melemparkan cicak ke tubuhku. Iiiiiihhh…… aku sangat jijik dengan binatang itu. “Kutu buku….. kutu buku….. Bety lavea…. Bety lavea” ejek dion. Uuuhhhh….. aku semakin kesal dengan kelakuannya yang semakin menyebalkan. Kalau bukan adikku, pasti sudah aku tempeleng. Gerutuku. Lima menit kemudian ibu pasti mengomeliku “ Santi kamu harus mulai merubah penampilan kamu, ibu ga mau lagi dengar alasan ini itu” … Aku semakin sebel dan kesal. Setiap hari peristiwa-peristiwa itu selalu menghampiri di kehidupanku. Ibu dan adikku ga pernah berpihak kepadaku, hanya ayahku yang selalu mendukungku. Bulan mulai muncul dari kejauhan di balik langit yang mulai gelap. Uuppss…… aku lupa hari ini ada janji dengan si cerewet pergi ke pesta ulang tahunnya rendi. Lelaki yang sudah membuat aku tidak bisa tidur siang dan malam, gelisah, dan galau. “ san kau memakai gaun apa malam ini ?” tanya ria yang mengagetkan aku. “ aduh aku bingung bantu aku dong”. Setelah setengah jam memilih gaun, akhirnya aku sudah menemukan yang cocok. Aku selalu percaya diri dengan penampilanku meskipun semua orang memandangku sebelah mata termasuk rendi. Tapi aku ga pernah merasa sakit hati. Dengan mengendarai motor bebek aku duduk dibelakang si cerewet. Jantungku dag dig dug deerr bergetar kencang, seperti suara guntur yang menandakan akan turunnya hujan dan petir yang mau menyambar. Semakin kencang saat kakiku mulai melangkah di depan gedung pesta ulang tahunnya. “ hai ria kamu semakin cantik dengan warna pink” kata dodi lelaki yang terkenal dengan sebutan si mata ijo karena hobinya suka melirik cewek cantik. Huucchh…. Sebel deh aku ditinggal sendiri. Tenggorokanku terasa kering, aku mencari dimana tempat minuman. Aku ga terbiasa memakai high girls. Sekali aku berhenti karena kakiku rasanya panas seperti berjalan di atas bara api. “Aduuh… “ hal yang tidak aku inginkan telah memalukanku. Aku terjatuh saat membawa minuman. Aku malu di depan rendi. Semua teman-teman menertawakan aku. “huuuhhhh dasar kamseupay, sadar dong kamu itu ga pantas datang di acara pesta mewah ini” ejek dodi. “ hahahahaha…… kamseupay pulang saja kau” ucap rendi. Aku berlari keluar tak menghiraukan suara-suara yang melukaiku itu. Peristiwa itu selalu membayangiku. Setiap aku mengingatnya , aku tidak bisa menahan air mata. Sampai tak sadar aku tertidur. Pagi yang cerah itu matahari mulai muncul dari tidurnya yang lelap, tetapi tidak buatku. Mataku merah saat aku bercermin di dekat jendela. Semakin sakit saat sinar pagi hari menyilaukan mataku. Aku harus sadar dari masalahku. “Santi ada surat buatmu” Ibu memanggilku. Dengan sedikit memaksa kubuka kedua mataku. “ horeee…….. akhirnya aku dapat beasiswa ke luar negeri” teriakku. “ Terimakasih Tuhan, syukur ku ucapkan. Aku tidak akan menangis lagi. Iyach kamseupay kampungan sekali uuh payah, meskipun semua orang bilang seperti itu, tapi aku bisa membuktikan kalau memang aku hebat. Aku akan menunjukkan kepada rendi dan teman-temannya. Jangan memandang sebelah mata kamseupay.. kamseupay…