Merah-merah
si buah delima
Mawar
merekah di pagi hari
Siapalah
hati yang tidak bahagia
Melihat
senyum kekasih hati
Pergi
ke warung membeli sosis
Tidak
lupa memesan minuman
Wahai
adik janganlah menangis
Lihatlah
ibu membawa rambutan
Pak
Mukayan dan Pak Janu
Pergi
ke Bandung beli melati
Sedari
kecil tuntutlah ilmu
Agar
kelak tidak merugi
Buah
durian buah stroberi
Bunga
melati harum baunya
Jadi
anak jangan suka mencuri
Kalau
tidak mau masuk neraka
Musik
dangdut pinggul bergoyang
Tapi
janganlah sambil melompat
Ayo
kawan pergi sembahyang
Biar
selamat dunia akhirat
1. Model Nama
HENIK
Hening malam di sepertiga akhir
Enggan ku beranjak dari mimpi yang menyelimuti tidurku
Namun segera kubuka pagar-pagar yang menghalangiku
Iring beriring kakiku mencoba melawan penghalang itu
Karena ku ingin mendekatkan diriku pada yang kuasa
2. Model Deskripsi
Ruangan itu
Gerak-gerik ayunan kaki
Melangkah di depan pintu
Setiap satu meter dari depan
Ku selalu mencium bau tak nyaman
Di sebelah kiri ku lihat orang berbaring
Namun segera ku arahkan ke kanan
Mata memandang
Dimana-mana berserakan obat-obatan
3. Model Definisi
Merah adalah berani, seperti tekadmu yang tak pantang menyerah
Merah itu mawar, seperti wajahmu yang merona menyejukkan hati,
Mawar itu merekah, yang selalu memberikan keindahan setiap dipandang
Keindahan adalah surga, seperti dirimu yang memberikan kedamaian di hati
4. Model Kesan
5. Model Deskripsi dan Pesan
6. Model Pesan, Deskripsi, dan Kesan
7. Model Definisi, Deskripsi, Pesan, dan Kesan
8. Model Copy Master
Aku dan Anton sebenarnya sudah kenal
lama, kami teman sekelas waktu SD. Aku masih teringat kebiasaan buruknya,
karena kebiasaannya itu sempat membuatku marah. Suatu ketika kaos kaki
kesayangannya yang hampir seminggu tidak pernah ganti dilempar-lemparkan.
Tiba-tiba kaos kaki itu melayang tinggi dan prakkk… akhirnya mendarat tepat di
wajahku. Pufft… Aku tak tahan dengan bau khasnya sampai akhirnya aku pingsan.
Semakin lengkap penderitaanku karena sehari kemudian aku sakit. Mamaku sangat cemas
siang malam setia merawatku, meskipun terkadang mamaku cerewet. Aku hanya
tertunduk dan diam saat mama menasehati atau mengomeli aku.
“Santi, kamu tahu roda itu pasti
berputar!”
Kata-kata itu sering keluar saat mama
menasehatiku. Aku mencoba menghubung-hubungkan ucapan dari mama itu dengan
keadaanku sekarang ini.
“Apa benar yang dikatakan mama, roda itu
pasti berputar, yang buruk bisa menjadi baik, yang miskin bisa menjadi kaya,
yang dulunya benci bisa menjadi suka”, gumamku dalam hati. Dahulu memang karena
keusilan Anton, saya menjadi sangat benci terhadapnya, tapi sekarang bagai roda
berputar, rasa benci itu telah tergantikan menjadi cinta teramat besar, bahkan
bulan depan hubunganku dengan Anton sudah menginjak 3 tahun.
Pernah aku ingin tuk memberikan suatu
kejutan kecil di hari jadianku dengan Anton, aku ingin memberikan sesuatu yang
spesial buatnya, dan saya pikir tas merupakan pilihan yang sangat tepat
baginya, karena menurutku tas yang sampai sekarang dipakainya sudah usang,
padahal dia kemana-mana gak pernah lepas dari tas kecil yang selalu ia pakai
untuk membawa Galaxy Tab kesayangannya. Sering tas coklat yang dipakainya itu
menjadi bahan guyonan kami berdua. Akan tetapi sampai sekarang keinginan itu
belum terwujud, karena Anton masih setia dengan tas bututnya itu.
Suatu ketika aku mengajak Anton untuk
mengantarkan aku membeli sepatu baru, tas coklat usang itu sudah pasti menjadi
teman bagi kami berdua.
“Ach.. tas itu lagi beb” sindirku.
“Gak apa-apa cinta, kamu tahu gak asal-usul
tas ini?” sahut Anton dengan nada serius.
“Enggak, emang darimana?” sahutku dengan
penuh rasa penasaran.
“Tas ini peninggalan dari eyangku
sewaktu ikut perang kemerdekaan dulu buat membawa peluru” jawab Anton dengan
senyum kecil nampak di wajahnya.
“Ahh..kamu itu ada-ada aja beb, mungkin
kaos kaki yang kamu lempar tepat mengenai wajahku dulu juga peninggalan eyangmu
juga ya, pantas baunya sangat bersejarah sekali, gak ilang-ilang sampai
sekarang” balasku sambil kami berdua tertawa terbahak-bahak ketika mengingat
masa lalu itu. Yah memang kami berdua sering saling melempar canda, tapi tidak
ada rasa tersinggung diantara kami berdua.
“Udah siang nih beb, ayo kita langsung
ke SunShop, keburu malam entar pulangnya” ajakku dengan tergesa-gesa.
“Oke cinta, ayo kita meluncur!” jawab
Anton sambil menyalakan mesin motornya.
Sampai di tengah perjalanan menuju SunShop
toko milik cak Dikin itu, jalanan macet, ditambah panas terik matahari yang
hampir membakar kulit putihku, tapi tekad kami sudah bulat untuk meneruskan perjalanan
kami yang hanya tinggal 3 kilometer itu.
“Puffft… jarak 3 kilometer saja sampai
15 menit sampainya” keluhku sambil menaruh helm di kaca spion motor yang
diparkir di samping SunShop.
“Udahlah cin, gak usah mengeluh terus,
yah beginilah perjuangan untuk bisa sampai toko matahari (SunShop), jelas panas
lah!” canda Anton menghiburku.
Sampai di dalam SunShop hawa dingin
mulai kami rasakan berdua, maklumlah toko milik Cak Dikin itu dilengkapi AC yang
membuat nyaman bagi pembeli.
“Beb, sepatu putih ini bagus nggak?”
tanyaku sambil menunjukkan sepatu yang ku maksud.
“Emmm…warna coklat disebelahnya itu aja
cinta!” saran Anton.
“Kamu itu beb, selalu aja warna coklat,
bahkan kaos kaki putih pun kamu sulap menjadi warna coklat dengan bonus
wewangian yang membius ku dulu” candaku sambil mengingat kembali tragedi kaos
kaki yang membuat ku pingsan masa SD dulu.
“Hahaha… kamu itu cin, suka-sukanya
mengungkit masa lalu, kenapa? Kamu kangen dengan kaos kaki ku yang dulu?” candanya.
“Ihhh… amit-amit dech! Lagian kamu inget
nggak tahun lalu kan kamu udah membelikan aku sepatu warna coklat beb” sahutku
mengingatkan dia.
“Oh iya aku lupa, sepatu putih pilihanmu
itu juga bagus kok cin” Anton berkilah.
“Ya udah, aku ambil yang warna putih ini
aja ya” sahutku
Setelah membayar di kasir, kami bergegas
meninggalkan SunShop langgananku.
Di tengah perjalanan menuju ke rumah
dengan mengendarai motor bebeknya, Anton mengajakku untuk santai dulu di Chocolatos
Cafe dekat rumahku.
“Masih sore nih cin, kita mampir ke café
dulu yuk, sambil nyoba wifi gadgetku” pinta Anton.
“Bolehlah, tapi sebelum maghrib pulang
lho ya!” jawabku sambil memberikan syarat.
Sesampai di café, Anton memilih meja
nomor 9, nomor mujur kata Anton yang juga suka nonton bola itu. Setelah duduk, saya
pesan minum untuk kami berdua, karena Anton sudah sibuk mengeluarkan gadget
dari tas coklat yang dibawanya itu.
“Kamu pesan apa beb?” Tanyaku serius.
“Sudahlah terserah kamu lah, yang
penting kamu yang bayar ya!” jawab Anton santai sambil sibuk dengan gadgetnya.
“Ufff…menjengkelkan sekali kalo Anton
sudah asyik maen dengan gadgetnya, sampai-sampai aku dihiraukan, bahkan mungkin
kalau ada lalat yang nempel dihidungnya pun mungkin dia masih asyik dengan
mainannya itu” Keluhku dalam hati.
15 menit setelah pesanan diantarkan,
Anton masih mematung sambil memandangi gadgetnya, padahal capuccino pesananku
sudah tinggal seperempat gelas, tapi Anton sama sekali belum meminum apa yang
telah aku pesankan untuknya.
“Sudahlah beb, mbok ya berhenti sebentar
mainnya, minumanmu masih utuh tuh, cepat diminum, hari sudah semakin larut”
sela ku.
Tak lama Anton sambil konsen di
gadgetnya meminum isi gelas yang ada tepat didepannya tanpa mengubah arah
pandangnya. Akan tetapi setelah hanya meminum seteguk Anton langsung
memalingkan pandangan dari gadgetnya, sambil melotot kearahku dia bertanya
“Cin emang kau pesankan apa ini?”
“Oh itu cokelat panas beb, kenapa?”
sahutku.
“Oalahhh…cinta, aku kan udah bilang ke
kamu kalo aku alergi banget sama minuman yang namanya cokelat.” Jawab Anton
sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi wajahnya dan terburu-buru untuk
ke toilet sampai-sampai tas coklatnya masih menempel di bahunya.
Memang dulu Anton pernah cerita padaku
kalo waktu umur 4 tahun dia pernah mengalami alergi yang tak biasa, dia
menceritakan kalo waktu itu setelah menikmati es krim rasa cokelat, wajahnya
yang putih itu mendadak memerah kehitam-hitaman dan terasa bengkak katanya.
Sebelum memesan sebenarnya aku ingat akan cerita itu, tapi aku setengah tidak
percaya dengan ceritanya, karena setelah bercerita Anton tersenyum simpul yang
saya artikan kalo ceritanya itu hanyalah guyonan belaka. Kami berdua memang
sangat suka bergurau, usil, juga pandai berakting, bahkan sesuatu yang serius
dan candaan pun hampir tak dapat dibedakan.
15 menit berselang Anton tak kunjung
keluar dari toilet, dalam hati mulai menghawatirkan keadaannya, tapi aku tak
dapat menyusulnya ke toilet karena toilet laki dan perempuan dipisahkan di café
itu.
“Apa mungkin cerita Anton itu benar ya?
Kenapa juga tadi memesankan Anton cokelat panas, ribet dah jadinya sekarang”
sesalku dalam hati.
30 menit sudah hati ini diliputi rasa
kekhawatiran, sampai aku tak menyadari lingkungan sekitar, kabut sesal
memberikan suasana mencekam pada lamunanku, dan aku terkagetkan dengan sentuhan
tangan dibahuku.
“Ayo cin kita langsung pulang, semua
sudah aku bayar kok!” kata Anton dari belakangku sambil tangan kirinya menepuk
bahuku dan tangan kanannya masih memegang sapu tangan yang masih menempel di
wajahnya.
“Oh beb, kamu mengagetkan ku, kamu gak
apa-apa beb? ” sahutku sambil terkagetkan dari sentuhan tangannya.
“Gak apa-apa, ayolah kita pulang!”
“Oh ya tolong tab ku masukin ke tas aku
ya!” pinta Anton masih menutupi
wajahnya.
“Kamu bener gak apa-apa beb?” tanyaku
memastikan keadaannya sambil memasukkan tab ke tas yang nempel di bahunya.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung
jalan menuju parkiran motor, dan aku pun mengikutinya dari belakang.
Hampir dekat dengan motornya, Anton
berusaha meraih kunci motor yang ada di saku celana jeans nya yang ketat, dan
tanpa disadari sapu tangan yang menutupi wajahnya itu terjatuh.
“Lho…” kataku terkagetkan setelah
melihat wajah Anton yang lebih gelap dengan bibir yang sangat tebal. Wajah yang
dulunya cakep itu pun berubah menjadi menjijikkan.
“Kamu bener Anton?” tanyaku.
“Kamu ngomong apaan sih, kamu gak lihat
wajahku apa kalo aku ini bener-bener Anton” jawabnya dengan nada tinggi.
“Aku gak percaya kalo kamu Anton,
meskipun kena alergi, gak mungkin wajahmu berubah sedrastis ini, aku bahkan tak
mengenalmu lagi sekarang” sangkalku egois.
“Kamu memang keterlaluan ya, sudah tidak
minta maaf, eh sekarang malah sok gak kenal ma aku akibat dari perbuatanmu
sendiri” kata Anton marah.
“Jangan nipu aku ya Om, mana Anton
pacarku?” kataku seakan bicara sama orang lain.
“Kamu tadi minum apaan sih, kok jadi
mabok sekarang, aku ini Anton!” sindir Anton yang memang sudah tahu kalo aku
tadi hanya minum capuccino.
“Gak percaya kalo kamu Anton, dan
meskipun kamu Anton pun aku gak akan mau jalan denganmu!” jawabku emosi yang
masih gak percaya kalo itu Anton.
“Kalo Om gak mau jujur, oke saya pulang
sendiri” gertakku sambil nyelonong meninggalkan sosok yang tidak ku kenal itu.
5 meter aku berjalan gejolak batin
bertambah besar dalam hatiku, hingga sampai tikungan aku berhenti dan mengintip
sosok laki-laki itu yang masih terdiam di depan spion motornya Anton, sembari
hati saling berdebat meyakini siapa sebenarnya laki-laki itu.
“Jelek gitu kok pede banget ngaku-ngaku
Anton”
”Mungkin laki-laki itu masih
berpura-pura dengan alasan berkaca di spion motor Anton sampai benar-benar
memastikan aku tidak memperhatikannya”
“Tapi kok baju, celana, perawakannya,
dan bahkan tas coklat yang dibawanya sama persis punya Anton ya, mirip pun gak
mungkin, karena aku hafal betul keusangan tasnya sama persis dengan yang dibawa
laki-laki itu” kata hatiku mulai berbalik mempercayai kalo laki-laki tersebut
memang Anton.
“Ah bodohnya aku, mudah banget aku
dibutakan oleh emosi, laki-laki itu pasti Anton”
Setelah sadar aku langsung
menghampirinya yang masih berkaca melihat wajahnya.
“Anton…maafkan aku ya, tadi aku emosi!”
pinta maafku pada laki-laki itu.
Sambil terkagetkan sosok laki itu
menoleh ke belakang sambil berkata
“Udah gak apa-apa, kamu kan udah
melepaskan aku setelah melihat wajahku jelek begini, aku iklas kok” jawab Anton
dengan nada berat.
“Enggak Anton, aku bilang seperti itu
karena aku emosi, karena merasa dibohongi oleh orang yang nggak aku kenal, tapi
setelah aku melihat kamu dari kejauhan tadi, aku sadar bahwa kamulah Antonku”
kataku terbata-bata.
“Meskipun kamu sejelek apapun, asalkan
itu dirimu, cintaku gak berkurang sedikitpun kok”
Tak sadar ada yang meleleh di bawah
mataku, sambil aku memeluk hangatnya tubuhnya Anton.
Tak lama kemudian ada teriakan yang
memanggil namaku.
“Santi!!”
“Udah mau isyak, udah sholat maghrib
belom? Cepet bangun dan mandi sana, Anton juga nungguin kamu nih!” teriak mama
ku membangunkan aku.
Aku langsung bergegas bangun, dan
melihat guling yang aku peluk tadi basah karena air mataku. “Ada-ada aja mimpi
tidur di sore hari” gumamku dalam hati. Kata orang tua memang gak baik tuk
tidur menjelang magrib, tapi gimana lagi tadi ku kecapekan baru datang dari
kampus pukul 4 sore, niat hati mau mandi tapi rebahan sebentar, akhirnya
tertidur dengan diberi mimpi seperti itu.
Setelah mandi dan sholat maghrib, aku
menemui Anton, dan menerima kado darinya.
“Wow… makasih ya beb! Dalam rangka acara
apa kamu ngasih hadiah ke aku?”
“Walah cin, kamu lupa ya, sekarang kan
valentine day” jawab Anton.
Lansung aja aku buka bungkusan kertas
kado yang membalut hadiah untukku.
“Asyik…cokelat almond, kamu tahu aja beb
kesukaanku” kataku sambil tersenyum kecil mengingat mimpiku barusan.
“Oh ya beb, aku mau nanya tapi tolong
kali ini dijawab serius ya!” tanyaku dengan nada serius.
“Tumben serius amat cin, okelah kalo
kamu meminta aku tuk serius menjawab”
“Sebenernya cerita kamu dulu yang alergi
ama cokelat itu beneran nggak sih?”
“Hahahh…itu cuma bergurau kok cin, masak
sudah 3 tahun jalan ma aku masih belom bisa membedakan mana omonganku yang
bercanda mana yang serius? Emang kenapa kok tanya begitu? Mau beliin aku
cokelat ya” goda Anton.
“Ihh…ogah deh, val day itu yang pantes
cowok memberikan cokelat ke ceweknya, bukan sebaliknya” jawabku canda dengan
perasaan lega.
Yah beginilah resiko jalan sama orang
yang sama-sama suka ngebanyol, harus pandai memilah-milah mana yang canda mana
yang serius, untung kisah cokelat tadi tidak serius terjadi.
Kulihat langit mulai mendekat.Matahari terbenam di ufuk barat menandakan hari mulai berganti malam. Aku masih ingat benar pelajaran waktu SD pergantian siang dan malam. Matahari tidak menyinari bumi seluruhnya melainkan sebagian, itulah yang menyebabkan adanya siang dan malam. Semua buku tertumpuk rapi di rak buku belajarku. Saat aku merindukan masa kecilku, aku selalu membuka buku-buku itu. Aahhh….. Matahari sudah tak terlihat lagi, bumi sudah mulai gelap. Semua berjalan terus menerus seakan semua sudah tergambar di benakku. Hihihihiii……. Rasanya geli sendiri setiap aku merasa sok tahu. Aku seperti paranormal saja. Setiap senja aku selalu berada di balik tirai kelambu jendela kamarku menyaksikan senja, indahnya langit yang berwarna merah jingga. Seakan semua ikut menyaksikan kebesaran Tuhan. Warna itu memantulkan semua sinarnya di bumi. Kulihat wajahku memerah terpancar dari jendela kamarku terkena indah sinarnya senja hari. Aku sangat menikmatinya hingga aku tak menghiraukan suara berisik ibuku yang selalu memarahi adikku. Yach, dion adikku sangat nakal. Dia sering melemparkan cicak ke tubuhku. Iiiiiihhh…… aku sangat jijik dengan binatang itu. “Kutu buku….. kutu buku….. Bety lavea…. Bety lavea” ejek dion. Uuuhhhh….. aku semakin kesal dengan kelakuannya yang semakin menyebalkan. Kalau bukan adikku, pasti sudah aku tempeleng. Gerutuku. Lima menit kemudian ibu pasti mengomeliku “ Santi kamu harus mulai merubah penampilan kamu, ibu ga mau lagi dengar alasan ini itu” … Aku semakin sebel dan kesal. Setiap hari peristiwa-peristiwa itu selalu menghampiri di kehidupanku. Ibu dan adikku ga pernah berpihak kepadaku, hanya ayahku yang selalu mendukungku. Bulan mulai muncul dari kejauhan di balik langit yang mulai gelap. Uuppss…… aku lupa hari ini ada janji dengan si cerewet pergi ke pesta ulang tahunnya rendi. Lelaki yang sudah membuat aku tidak bisa tidur siang dan malam, gelisah, dan galau. “ san kau memakai gaun apa malam ini ?” tanya ria yang mengagetkan aku. “ aduh aku bingung bantu aku dong”. Setelah setengah jam memilih gaun, akhirnya aku sudah menemukan yang cocok. Aku selalu percaya diri dengan penampilanku meskipun semua orang memandangku sebelah mata termasuk rendi. Tapi aku ga pernah merasa sakit hati. Dengan mengendarai motor bebek aku duduk dibelakang si cerewet. Jantungku dag dig dug deerr bergetar kencang, seperti suara guntur yang menandakan akan turunnya hujan dan petir yang mau menyambar. Semakin kencang saat kakiku mulai melangkah di depan gedung pesta ulang tahunnya. “ hai ria kamu semakin cantik dengan warna pink” kata dodi lelaki yang terkenal dengan sebutan si mata ijo karena hobinya suka melirik cewek cantik. Huucchh…. Sebel deh aku ditinggal sendiri. Tenggorokanku terasa kering, aku mencari dimana tempat minuman. Aku ga terbiasa memakai high girls. Sekali aku berhenti karena kakiku rasanya panas seperti berjalan di atas bara api. “Aduuh… “ hal yang tidak aku inginkan telah memalukanku. Aku terjatuh saat membawa minuman. Aku malu di depan rendi. Semua teman-teman menertawakan aku. “huuuhhhh dasar kamseupay, sadar dong kamu itu ga pantas datang di acara pesta mewah ini” ejek dodi. “ hahahahaha…… kamseupay pulang saja kau” ucap rendi. Aku berlari keluar tak menghiraukan suara-suara yang melukaiku itu. Peristiwa itu selalu membayangiku. Setiap aku mengingatnya , aku tidak bisa menahan air mata. Sampai tak sadar aku tertidur.
Pagi yang cerah itu matahari mulai muncul dari tidurnya yang lelap, tetapi tidak buatku. Mataku merah saat aku bercermin di dekat jendela. Semakin sakit saat sinar pagi hari menyilaukan mataku. Aku harus sadar dari masalahku. “Santi ada surat buatmu” Ibu memanggilku. Dengan sedikit memaksa kubuka kedua mataku. “ horeee…….. akhirnya aku dapat beasiswa ke luar negeri” teriakku. “ Terimakasih Tuhan, syukur ku ucapkan. Aku tidak akan menangis lagi. Iyach kamseupay kampungan sekali uuh payah, meskipun semua orang bilang seperti itu, tapi aku bisa membuktikan kalau memang aku hebat. Aku akan menunjukkan kepada rendi dan teman-temannya. Jangan memandang sebelah mata kamseupay.. kamseupay…